JARGON DALAM MARKETING

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

Seorang teman mengeluhkan banyaknya jargon dalam marketing ketika membaca sebuah istilah baru yang tak dipahaminya.  Tiba-tiba saya tidak punya alasan untuk tidak memedulikannya. Memang benar, dunia marketing adalah dunia jargon. Banyak sekali jargon diproduksi oleh para marketer atau pengamat marketing untuk mengomunikasikan ide-ide mereka. Bahkan, terkadang, terjadi tumpang tindih. Misalnya dulu istilah mouth-to-mouth menjadi buzz kemudian menjadi word-of-mouth (diindonesiakan: getok-tular) trus ada pula viral marketing yang inti dan maknanya sama: komunikasi dari mulut ke mulut, yang segera menjadi bahan pembicaraan umum.

Entahlah, mengapa para marketer gemar sekali berjargon-jargon-ria. Tapi beberapa kemungkinan jawabannya antara lain:

1. Makna atau maksud yang ingin diungkapkan tidak bisa persis terwakili oleh istilah atau jargon yang sudah ada. Mungkin ada makna-makna baru yang sedikit berbeda (lebih luas, lebih khusus, atau lebih dalam) dari makna istilah yang sudah ada. Maka diciptakanlah istilah atau ‘jargon’ baru yang menurut penciptanya lebih pas mewakili maksud atau makna dari ide atau pesan yang ingin diungkapkannya.

2. Biar kelihatan atau kedengaran keren aja bisa menciptakan istilah baru. Orang marketing biasanya tidak jauh-jauh dari mind-set dan life style yang berorientasi pada penciptaan image. Dengan menggunakan istilah-istilah yang ‘terdengar canggih’, maka image-nya pun ikut terangkat. Terkesan bahwa dia seorang yang inovatif, pakar di bidangnya, dan bagian dari ‘orang-orang yang tidak pernah ketinggalan zaman’. Meskipun, pada sebagian orang terkesan bahwa jargon atau istilah-istilah tersebut digunakan hanya sebagai baju penutup kedangkalan ilmunya.

Lucunya, kadang istilah atau jargon yang digunakan kurang tepat sehingga terlihat menggelikan. Contoh, sebuah edisi majalah SWA menggunakan istilah “Event Marketing” sebagai istilah untuk menyebut pemanfaatan event sebagai alat komunikasi pemasaran. Padahal, bila diterjemahkan menjadi “pemasaran event” jelas berarti “sebuah strategi atau cara memasarkan sebuah event”.

Mungkin yang dimaksudkan oleh wartawan dan nara sumbernya adalah “Marketing Event”, yang berarti “event sebagai alat komunikasi pemasaran” atau “marketing yang menggunakan strategi atau cara-cara event untuk mencapai tujuan”. Sama dengan istilah “Marketing PR” yang berarti pemasaran dengan menggunakan strategi yang lazim digunakan dalam PR. Akan berbeda maknanya bila menjadi “PR marketing”, bukan?

Begitulah, kebanyakan jargon bisa membuat kita jadi kesandung, kalau tak hati-hati. Kembali lagi kepada tujuannya, untuk apa kita membuat atau menggunakan jargon atau istilah-istilah tersebut. Salah tujuan, bisa-bisa salah pakai. Dan salah pakai, bukannya menjadikan image jadi terkesan ‘paling tahu’, malah menjadi terkesan ‘sok tahu’.

Advertisements