Blog ini menampilkan spektrum warna-warni komunikasi dari berbagai sudut pandang

Monthly Archives: January 2008

Ada berbagai macam hasil karya ilmiah yang bisa dihasilkan. Ada yang simpel tapi berbobot, ada yang ‘canggih’ dan berbobot, ada yang simpel dan tidak berbobot, dan ada yang ‘canggih’ namun tidak berbobot.

Simpel tapi berbobot adalah karya ilmiah yang disajikan secara jernih, tuturan yang sederhana dan mudah dipahami, bahkan oleh orang awam sekalipun, namun menawarkan sebuah ide baru yang segar. Mencerahkan. Ide itu pun bisa sangat sederhana, ada di sekitar kita dan mungkin sering kita alami sehari-hari, namun tidak kita (dan orang-orang) sadari, sehingga jarang yang menelitinya. Sang peneliti sangat jeli dan kreatif menangkap dan menguraikannya dengan sistematika yang jelas, metode yang dapat dipertanggujawabkan, serta bahasan yang tidak rumit untuk dipahami. Simple, clear, unique and brilliant.

Sedangkan karya yang ‘canggih’ dan berbobot adalah karya yang mengandung analisis-analisis dan teori yang bagus namun penyajiannya demikian ‘ilmiah’ hingga susah dimengerti tanpa dibaca atau ditelaah berkali-kali. Ide yang ditawarkan pun tidak biasa. Unik dan ‘wah’. Tentu saja, secara metodologis pun dapat dipertanggujawabkan. Hasil karya ini barangkali hanya dapat dipahami oleh kaum cendekia yang diberikan anugerah IQ di atas rata-rata, atau kaum akademis terbatas seperti profesor dan doktor. Orang awam, maaf-maaf saja. Boleh, asal tidak ada jaminan jika beberapa hari kemudian menjadi penghuni rumah sakit jiwa 🙂

Adapun karya yang simpel dan tidak berbobot adalah karya yang sangat sederhana dalam penyajian, metode, maupun analisis, sementara ide yang ditawarkan pun biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Mungkin penelitian dengan topik semacam telah banyak yang menelitinya, atau tidak memberi pencerahan baru bagi pembacanya. Biasa-biasa saja. Seperti numpang lewat di benak pembaca. Tak berkesan.

Satu lagi adalah karya yang tampak ‘canggih’ namun kurang berbobot. Penyajian, penggunaan kata-kata, istilah-istilah ilmiah, analisis dan pembahasannya benar-benar ‘luar biasa’. Pembaca akan dibuat takjub saking sulit memahaminya. Mungkin hanya kalangan tertentu seperti kaum cendekia dan akademis terbatas yang sanggup mencernanya. Namun, bila ditelaah benar-benar, sebetulnya tak ada yang istimewa dari ide yang ditawarkan oleh penelitian tersebut. Kesannya saja yang dibuat ‘canggih’ dan sangat ilmiah, namun idenya biasa-biasa saja. Terlalu umum. Tidak mencerahkan. Bisa jadi, penulisnya terbebani ‘sindrom ilmiah’ sehingga berupaya membuah serumit mungkin agar terkesan bobot ilmiahnya tinggi. Pendapatnya, mungkin, makin sulit dipahami orang banyak, makin ilmiah karya tersebut.

Nah, karya ilmiah semacam apakah yang ingin Anda hasilkan? Semua tergantung pilihan Anda.

Advertisements

Masih banyak yang salah kaprah. Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif, namun pusing memikirkan teori sebelum memulai penelitian.

Padahal, penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori, tidak untuk menguji teori atau mengukuhkan teori yang ada. Jadi buat apa bertanya: penelitian ini memakai teori apa ya?

Penelitian kualitatif berangkat dari lapangan dan akhirnya (bisa) menghasilkan teori. Di sinilah uniknya penelitian kualitatif. Peneliti tidak dibebani oleh teori. Bahkan, pada metode grounded theory approach, peneliti langsung terjun ke lapangan sambil merancang penelitiannya. Dari sana baru didesain penelitian,  sambil mengumpulkan informasi dan hasil pengamatan untuk menghasilkan suatu teori baru atas fenomena di lapangan. Namun, bukan berarti bahwa peneliti “cupu” abis. Setidaknya, peneliti juga harus punya wawasan untuk dapat menginterpretasi dan menganalisis fenomena di lapangan. Salah satunya adalah mengetahui teori yang relevan. Salah satu ya, bukan satu-satunya. Yang lain apa? Yang lain adalah pendapat-pendapat, komentar-komentar, kutipan-kutipan pembicaraan, ulasan artikel, jurnal, hasil penelitian yang relevan, bahkan ‘curhat’ yang ada di blog sekalipun jika memang relevan.

Jadi, apa fungsi teori dalam penelitian kualitatif?

Berbeda dengan teori pada penelitian kuantitatif yang menjadi dasar penelitian untuk diuji, maka pada penelitian kualitatif, teori berfungsi sebagai inspirasi dan perbandingan. Mungkin Anda terinspirasi dari suatu teori yang kemudian menjadi kerangka berpikir Anda dalam meng-capture suatu fenomena? Atau ketika Anda menjelaskan dan membahas suatu fenomena, Anda teringat pada suatu teori yang berkaitan dengan fenomena tersebut, maka ungkapkanlah. Teori akan memperkuat penjelasan Anda. Dan memberi warna yang lebih tajam bagi analisis Anda. Namun, teori bukan satu-satunya alat analisis ataupun perbandingan dan bahkan inspirasi Anda. Karena inspirasi bisa datang dari mana saja. Dari sebuah artikel ringan di sebuah majalah ‘ecek-ecek’, dari sebuah ungkapan ngawur di pinggir jalan, dari mana saja. Sepanjang itu membentuk cara berpikir Anda dalam memandang suatu fenomena, maka itu bisa menjadi inspirasi bagi Anda. Jadi, dalam penelitian kualitatif, teori bukan satu-satunya kacamata yang bisa digunakan untuk ‘melihat’. Ada banyak kacamata lain. Karena itu, mengumpulkan segala macam informasi yang relevan serta dari segala macam sumber adalah penting. Karena seperti diulaskan tadi, selain menjadi inspirasi, segala informasi dan rujukan tersebut juga dapat menjadi bahan perbandingan Anda pada pembahasan hasil penelitian.

Saya memberi contoh misalnya sebuah cerita.

Ketika sedang menunggu bus yang lewat, tiba-tiba Resa dikejutkan oleh seorang laki-laki parlente dengan dandanan unik. Laki-laki itu bertanya dengan gaya sok wibawa, namun tak mampu menyembunyikan ‘jari ngetril’-nya. Ini mengingatkan Resa pada sosok ‘Pemburu’ dalam film Quickie Express saat mencoba mendekati tokoh Jojo yang diperankan oleh Tora Sudiro. Yang membedakan hanya potongan tubuh sosok di hadapannya tampak lebih tinggi dan kurus. Begitu pula mobil yang ditepikan di depan halte tampak lebih mengilap dibandingkan milik om ‘pemburu’ dalam film tersebut.

Nah, ungkapan “sosok ‘Pemburu’ dalam film Quickie Express saat mencoba mendekati tokoh Jojo yang diperankan oleh Tora Sudiro” adalah sama fungsinya dengan teori yang menjadi bahan perbandingan dalam pembahasan penelitian kualitatif.

Sedangkan ungkapan “Yang membedakan hanya potongan tubuh sosok di hadapannya tampak lebih tinggi dan kurus. Begitu pula mobil yang ditepikan di depan halte tampak lebih mengilap dibandingkan milik om ‘pemburu’ dalam film tersebut” adalah hasil perbandingan dan analisisnya.

Jadi jelas, teori dalam penelitian kualitatif hanya sebagai bahan perbandingan dan inspirasi, bukan sebagai dasar penelitian untuk diuji keberlakuannya pada fenomena atau masalah yang diteliti. Jadi, kenapa harus repot-repot memikirkan teori apa yang hendak digunakan sebelum penelitian?


Cover CommuniqueTelaah Studi Implikatur dalam Memahami Pelanggaran Aturan Maksim Percakapan dalam Komunikasi Politik: Analisis Percakapan Wacana Penyelewengan Dana DKP Amien Rais-Susilo Bambang Yudhoyono

(A Review of The Implicature Study in Tolerating the Rule’s Infringement of Conversation Maxims in the Political Communication: The Conversation Analysis of  the Deviation of DKP’s Non-budgetary Funds’ Discourse between Amien Rais & Susilo Bambang Yudhoyono)

Oleh: B. S. Wijaya

DOI: 10.13140/2.1.1602.2565

Abstract: The implicature studies typically used to analyze the rule’s infringement of conversation maxim at a direct conversational discourse object in interpersonal communication. In this paper, the author tries to analyze an indirect conversation through the mass media in the form of the polemic of a political communication’s phenomenon between Amien Rais and President Susilo Bambang Yudhoyono in 2007 regarding the deviation of DKP’s non-budgetary funds and the alleged of foreign funds usage. Although the polemics or public discourse that evolved is not an ordinary/ direct conversation, but this research shows that it could be analyzed by using the analytical tool of conversation maxim and Paul Grice’s implicature studies theory that based on the objects of direct conversation analysis, assuming that the war statements between the two national leaders can be categorized as a rhetorical conversation. This analysis opens space for the application of the method and the theory of ordinary/ directly conversation on the conversation in the context of public discourse so far that discourses indicate the typical characters that commonly arise in the ordinary conversation, such as regularity, continuity, reciprocity or showing action-reaction.

Abstrak: Studi Implikatur biasanya digunakan untuk menganalisis pelanggaran aturan maksim percakapan pada suatu obyek wacana percakapan langsung dalam komunikasi antarpribadi. Dalam tulisan ini, penulis mencoba menganalisis sebuah percakapan tidak langsung melalui media massa dalam bentuk polemik sebuah fenomena komunikasi politik antara Amien Rais dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007 menyangkut penyelewengan dana nonbujeter DKP dan dugaan penggunaan dana asing. Walaupun polemik atau wacana publik yang berkembang bukanlah sebuah percakapan biasa, namun dari hasil eksperimentasi penulis ternyata dapat ditelaah dengan menggunakan alat analisis maksim percakapan dan teori studi implikatur dari Paul Grice yang berbasis obyek analisis percakapan langsung. Hal ini dengan asumsi bahwa perang statement antara kedua tokoh nasional tersebut dapat dikategorikan sebagai percakapan retorik. Hasil analisis penulis ini membuka ruang bagi penerapan metode dan teori percakapan biasa (langsung) pada percakapan dalam konteks wacana publik sejauh wacana tersebut mengindikasikan adanya karakter-karakter khas yang biasa muncul pada percakapan biasa, seperti keteraturan, kesinambungan, ketimbal-balikan atau menunjukkan aksi-reaksi.

Kata Kunci (keywords): Studi Implikatur, Analisis Percakapan, Komunikasi Politik, Maksim Percakapan

DOI: 10.13140/2.1.1602.2565

See full-text paper here:  A Review of the Implicature Study -Communique Vol 9 No 1


Jurnal ArtHumanisasi Otomotif dalam Iklan Mobil VW Caravelle

(The Humanisation of Automotive in the VW Caravelle Ads)

Oleh: B. S. Wijaya

DOI: 10.13140/2.1.4027.0888

Abstract: VW Caravelle ad was unique because it did not follow the standard or style of car advertising commonly, which tended to accentuate the visual of a car or car’s features in large sizes. Instead of communicating the product benefits loudly and directly (hard sell), VW Caravelle ads took the “high-risk pathway” by highlighting the symbols of expressions or human body language kinetics without visual of car (or its features). Using semiotics theory of Morris and kinetics theory of Bhirdwhistell, the meanings of messages in 2 (two) versions of VW Caravelle ad, i.e. “bulging eyes” version and “toothless” version were revealed in detail and comprehensively. Revealed, the unusual way of delivering message was actually part of the VW brand culture that tended to intelligently communicate to their customers which is mostly upper class community. Perceived quality that had been established was making VW Caravelle can more freely explore the messages of product benefits indirectly (soft sell) and challenge the intellectuality of message recipients. By using symbolism and kinetics associations, VW Caravelle was also trying to “turn on” the inanimate objects and rigid product like cars. Thus, expression of human touch in the ads made the VW Caravelle looks being product that was more than just an ordinary car.

Key words:  Humanization of automotive, VW Caravelle, Semiotics Theory of Morris, Birdwhistell’s Kinetics, Body Language

DOI: 10.13140/2.1.4027.0888

See full-text paper hereHumanisation of Automotive in the VW Caravelle Ads


Fatwa yang Tidak Komunikatif

Oleh: B. S. Wijaya

Beberapa waktu lalu, sebuah stasiun televisi menayangkan acara talkshow debat publik yang menghadirkan pihak MUI dan Ahmadiyah. Tayangan ini sangat menarik, karena selama ini MUI dan Ahmadiyah jarang bertemu dan berkomunikasi (setidaknya di hadapan publik). Hawa pertentangan mereka lebih banyak terejawantah dalam bentuk pemberitaan yang sensasional terutama berkaitan dengan aksi-aksi anarkis massa yang disinyalir (konon) terkait dengan fatwa MUI.Namun, sangat disayangkan bahwa debat tersebut cenderung diwarnai nuansa ‘emosional’ alih-alih argumentasi yang rasional dan jernih agar mudah dipahami dan diterima oleh publik mana saja, baik dari kaum muslim mainstream maupun dari komunitas Ahmadiyah. Continue reading



%d bloggers like this: