Jurnal DesainMenonton Indonesia di Remang Kabut Euforia Reformasi: Telaah Buku Budaya Populer di Indonesia, Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru

 (Watching Indonesia in the Dim Mists of Reform Euphoria: a Book Review of ‘Popular Culture in Indonesia, Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics’)

Oleh: B. S. Wijaya

DOI: 10.13140/2.1.1405.6489

Abstract:  If in the New Order era, the political dynamics in the production and consumption of pop cultures was caught in the polarity between those for, and those against, the status quo centred at the official ideology of (that ‘recognized’ by) the governmental regime which was a combination of Javanism, secularism, militarism, paternalism, developmentalism and indigenism, then in the post-New Order or theReform era, feud of the identity politics intertwined in between: (a) local sentiment and national authority; (b) syncretic Javanism and new Islam piety; (c) patriarchy and the women’s movement; (d) lower and upper-class cultural tastes; and (e) digital divide and empowerment. This paper examines interesting articles on the development of pop cultures in the post-New Order Indonesia were compiled and edited by Ariel Heryanto in his book entitled “Popular Culture in Indonesia, Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics“. Not only examining them through reframing the phenomenon and the study of popular cultures in the post-New Order Indonesia to be more contextual, here I also tried to analyze and criticize each important article in order to open a wider horizon in viewing the phenomenon exists and serve as a reference for subsequent researchers.

Keywords: popular culture, post-New Order era, the reform euphoria

Abstrak: Jika pada masa Orde Baru, dinamika politik dalam produksi dan konsumsi budaya pop terjebak dalam pertentangan antara kubu yang menerima dan kubu yang melawan status quo yang berpusat pada ideologi resmi yang ‘diakui’ rezim pemerintahan yakni kombinasi Kejawen, sekularisme, militerisme, bapakisme dan Pembangunanisme serta kepribumian, maka pada masa pasca-Orde Baru atau Reformasi perseteruan politik identitas berkelindan di antara: (a) semangat kedaerahan dan kewenangan nasional, (b) sinkretisme Jawa dan meningkatnya kesalehan baru Islam, (c) patriarki dan gerakan perempuan, (d) selera budaya tinggi dan rendah, dan (e) kesenjangan dan pemberdayaan teknologi. Tulisan ini menelaah artikel-artikel menarik mengenai perkembangan budaya pop di Indonesia pasca Orde Baru yang dirangkum dan dieditori oleh Ariel Heryanto dalam bukunya berjudul “Budaya Populer di Indonesia, Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru”. Tidak hanya menelaah melalui pembingkaian ulang fenomena dan kajian budaya populer di Indonesia pasca Orde Baru agar lebih kontekstual, di sini saya juga berusaha menganalisis dan mengritisi setiap artikel agar membuka horizon lebih luas dalam melihat fenomena yang ada dan menjadi referensi bagi periset selanjutnya.

Katakunci: budaya populer, pasca Orde Baru, euforia Reformasi

Full-text paper: Watching Indonesia in the Dim Mists of Reform Euphoria

Cite this article –APA Style– as follow (kutip artikel ini dengan penulisan di daftar pustaka sbb):

Wijaya, B. S. (2014). Menonton Indonesia di Remang Kabut Euforia Reformasi: Telaah Buku ‘Budaya Populer di Indonesia, Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru [Watching Indonesia in the Dim Mists of Reform Euphoria]. Jurnal Desain, 1 (2): 142-161. DOI: 10.13140/2.1.1405.6489

Advertisements