Blog ini menampilkan spektrum warna-warni komunikasi dari berbagai sudut pandang

Category Archives: Komunikasi Organisasi

Mau Menguasai Suatu Organisasi..? Pegang Anggota ‘Klik’-nya! 

Setidaknya ada beberapa unsur dalam jaringan komunikasi pada suatu organisasi yang memiliki peranan cukup penting. Kita dapat membagi mereka ke dalam anggota klik dan bukan anggota klik. Klik adalah sebuah kelompok individu yang paling tidak separuh dari kontaknya merupakan hubungan dengan anggota-anggota lainnya. Agarwala-Rogers (1976) mengemukakan bahwa “kebanyakan anggota klik relative akrab satu sama lain baik dalam komunikasi formal maupun informal”. Satu prasyarat keanggotaan klik adalah setiap individu harus mampu melakukan kontak satu sama lain, bahkan dengan cara tidak langsung. Anggota klik adalah jantung sistem dan bertindak sebagai tujuan akhir bagi kebanyakan pesan. Beberapa anggota klik, antara lain: Continue reading

Advertisements

Hati-hati dengan ‘Selentingan’..!

Oleh: B. S. Wijaya

Dalam komunikasi organisasi, “selentingan” digambarkan sebagai ”metode penyampaian laporan rahasia dari orang ke orang yang tidak dapat diperoleh melalui saluran biasa” (Sten, 1967). Meskipun sumbernya tampak ”rahasia” namun informasi itu sendiri bukan rahasia. Informasi yang diperoleh lebih memperhatikan ”apa yang dikatakan dan didengar orang-orang” daripada apa yang dikeluarkan pemegang kekuasaan secara resmi. Karena sifatnya yang informal/personal, maka arah aliran informasinya tidak stabil, bisa mengalir ke atas, ke bawah, kiri, kanan dan melintasi saluran dengan hanya sedikit saja yang melewati hubungan posisional. Continue reading


Perbedaan dan Perkembangan Teori-teori KLASIK, Teori TRANSISIONAL, dan Teori MUTAKHIR

Oleh: B. S. Wijaya

TEORI KLASIK mementingkan aspek struktur dan fungsi. Bahwa untuk mencapai efisiensi yang tinggi, maka struktur organisasi harus stabil. Semakin stabil maka semakin efisien. Sehingga struktur-struktur dan fungsi cenderung selalu tetap/tidak berubah. Dua bentuk organisasi yang popular dalam teori ini adalah organisasi social dan formal. Dalam organisasi social, perbedaan-perbedaan status social mengembangkan suatu hirarki dalam struktur sosial yang menempatkan figure-figur tertentu dalam posisi penting, yang biasanya dipertahankan bahkan dikultuskan. Continue reading


Teori Rasional

Pendekatan berdasarkan teori rasional dimulai dengan asumsi bahwa apa yang kita percayai menentukan bagaimana kita berperilaku. Sehingga menurut perspektif teori ini, upaya untuk mengubah perilaku pegawai harus dititikberatkan pada perubahan kepercayaannya. Tanpa perubahan kepercayaan, seseorang akan mengikuti sifat-sifat lama atau kembali ke masa silam. Combs, Avila, dan Purkey (1971) mengemukakan pentingnya personal meaning sebagai salah satu faktor pengubah kepercayaan, sedangkan Craighead, Kazdin, dan Mahoney (1976) mengemukakan tentang self-verbalization.

Pendekatan rasional terhadap perubahan didasarkan pada pengaruh kuat kepercayaan, pemaknaan personal, bahasa dan verbalisasi-diri pada perilaku. Contoh: Saya percaya bahwa untuk dapat kenaikan gaji lebih cepat, maka saya harus pindah kerja ke perusahaan lain yang menawarkan gaji lebih tinggi (personal meaning). Hal ini memengaruhi perilaku saya yang mudah pindah kerja, sampai suatu ketika saya membaca sebuah artikel yang mengubah kepercayaan saya tersebut. Sering pindah kerja membuat karir tidak stabil dan dapat merusak reputasi profesionalisme kita. Sejak itu saya berpikir seribu kali sebelum memutuskan pindah kerja meskipun gaji yang ditawarkan cukup menggiurkan. (BSW)


Teori Perilaku

Pendekatan melalui teori perilaku berasumsi bahwa untuk mengubah perilaku seseorang secara lebih efisien, maka kita harus menitikberatkan pada perilakunya yang dapat diobservasi, bukan pada sikap atau kepercayaannya. Bartlet (1967) berpendapat “lebih mudah mengubah perilaku daripada mengubah sikap! Mengapa melancarkan serangan gencar pada sikap kalau sikap akan mengikuti jika perilaku diubah?”. Sedangkan William dan Long (1975) mengaplikasikan prinsip-prinsip behaviorisme ini dengan mengembangkan program pengelolaan-diri yang meliputi penataan kembali konsekuensi perilaku, sehingga perilaku yang diinginkan dapat diperteguh dengan segera.

Contoh paling nyata  penerapan teori ini adalah institusi-institusi (pendidikan) yang berbau militer. Seseorang yang telah ditempa oleh berbagai aturan disiplin dan kegiatan kemiliteran akan memiliki perilaku tegas, disiplin, strategik dan berpandangan obyektif. Dalam perusahaan pun, peraturan-peraturan sering diterapkan untuk mengubah perilaku karyawan agar sinergis dengan budaya dan nilai-nilai yang diinginkan oleh perusahaan. (BSW)


Teori Pencapaian Prestasi

Pendekatan teori ini didasari asumsi bahwa perubahan perilaku muncul karena individu ingin berhasil. McClelland (1953) mengemukakan salah satu ciri individu yang memiliki achievement oriented ini adalah mereka menyukai tantangan serta penghargaan atas diri (kepuasan pribadi). Pekerjaan yang terlalu ringan akan membuat enggan dan terlalu berat akan membuat ragu. Mereka mampu mengukur pencapaian prestasi tersebut sehingga mereka mampu mengerjakan tugas-tugas dengan baik dan penuh semangat. Sehingga, untuk mengubah perilaku karyawan adalah dengan memberikan tugas-tugas menantang dengan target yang cukup rasional, serta menetapkan reward atas keberhasilan mereka.

Contoh untuk teori ini banyak ditemukan pada perusahaan-perusahan marketing atau sales oriented seperti asuransi, property, MLM, dll. Demikian juga di perusahaan service-based oriented yang banyak menggunakan kepuasan pelanggan sebagai alat ukur prestasi karyawan.  Dalam dunia periklanan misalnya.  Ide dan kreativitas merupakan hal yang utama. Tanpa ide dan kreativitas tinggi, bagaimana mungkin bisa menghasilkan terobosan-terobosan baru dalam strategi komunikasi pemasaran di tengah kompetisi yang semakin ketat dan kejam? Iklan-iklan menarik dan berhasil memikat banyak konsumen serta mampu menaikkan angka penjualan produk juga dihasilkan ole ide dan kreativitas tinggi. Sehingga siapapun dia, tanpa mengenal posisi, yang mampu memberikan ide-ide segar akan memperoleh ‘penghargaan’ khusus. Penghargaan berupa bonus, gaji, posisi dan respek atasan maupun sesama karyawan.

Orang-orang yang kreatif dan selalu memiliki ide segar akan selalu diperhatikan dan dipertahankan, karena merupakan ‘aset langka dan bernilai tinggi’. Apalagi bila hasil karyanya mampu berprestasi di ajang kompetisi kreatif periklanan nasional maupun internasional, atau mendapat pujian dari klien karena sales maupun market share mereka meningkat.Tak heran, banyak orang-orang muda kreatif yang cepat meraih posisi tinggi dan strategis dengan gaji dan fasilitas yang melimpah, mengalahkan senior-seniornya. Dan di dunia periklanan atau komunikasi pemasaran, itu adalah hal yang biasa. (BSW)


Teori Posisi

Pendekatan teori posisi didasari atas suatu premis bahwa perilaku seseorang terutama ditentukan oleh peranan atau posisi yang ia duduki. Suatu peranan merupakan seperangkat perilaku sesorang yang menandai posisinya. Hal tersebut mencakup harapan, standar, norma, atau konsep tentang bagaimana berperilaku dalam suatu posisi social.

Seseorang yang baru diangkat jadi menteri akan mengubah perilakunya sehingga berbeda ketika dia masih menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi. Seseorang yang baru pulang naik haji akan langsung terlihat lebih alim daripada sebelum haji (bahkan mungkin jadi doyan memberi nasihat walau tak diminta). Ketika saya di kantor sebagai karyawan, saya berperilaku sebagaimana layaknya karyawan lain yang sibuk membicarakan gaji, pimpinan, pembagian tugas, karir dan (kadang-kadang) menggoda karyawati yang tampak sexy. Ketika di kelas sebagai mahasiswa, sebagaimana mahasiswa lain sibuk bercanda, berdebat, berbicara teoritis dan serius, serta (kadang-kadang) menilai dosen.

Cocoklah lagu ’Panggung Sandiwara’-nya GodBless mencerminkan teori ini. (BSW)



%d bloggers like this: