Blog ini menampilkan spektrum warna-warni komunikasi dari berbagai sudut pandang

Category Archives: Metode Riset Komunikasi

Cover CommuniqueTelaah Studi Implikatur dalam Memahami Pelanggaran Aturan Maksim Percakapan dalam Komunikasi Politik: Analisis Percakapan Wacana Penyelewengan Dana DKP Amien Rais-Susilo Bambang Yudhoyono

(A Review of The Implicature Study in Tolerating the Rule’s Infringement of Conversation Maxims in the Political Communication: The Conversation Analysis of  the Deviation of DKP’s Non-budgetary Funds’ Discourse between Amien Rais & Susilo Bambang Yudhoyono)

Oleh: B. S. Wijaya

DOI: 10.13140/2.1.1602.2565

Abstract: The implicature studies typically used to analyze the rule’s infringement of conversation maxim at a direct conversational discourse object in interpersonal communication. In this paper, the author tries to analyze an indirect conversation through the mass media in the form of the polemic of a political communication’s phenomenon between Amien Rais and President Susilo Bambang Yudhoyono in 2007 regarding the deviation of DKP’s non-budgetary funds and the alleged of foreign funds usage. Although the polemics or public discourse that evolved is not an ordinary/ direct conversation, but this research shows that it could be analyzed by using the analytical tool of conversation maxim and Paul Grice’s implicature studies theory that based on the objects of direct conversation analysis, assuming that the war statements between the two national leaders can be categorized as a rhetorical conversation. This analysis opens space for the application of the method and the theory of ordinary/ directly conversation on the conversation in the context of public discourse so far that discourses indicate the typical characters that commonly arise in the ordinary conversation, such as regularity, continuity, reciprocity or showing action-reaction.

Abstrak: Studi Implikatur biasanya digunakan untuk menganalisis pelanggaran aturan maksim percakapan pada suatu obyek wacana percakapan langsung dalam komunikasi antarpribadi. Dalam tulisan ini, penulis mencoba menganalisis sebuah percakapan tidak langsung melalui media massa dalam bentuk polemik sebuah fenomena komunikasi politik antara Amien Rais dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007 menyangkut penyelewengan dana nonbujeter DKP dan dugaan penggunaan dana asing. Walaupun polemik atau wacana publik yang berkembang bukanlah sebuah percakapan biasa, namun dari hasil eksperimentasi penulis ternyata dapat ditelaah dengan menggunakan alat analisis maksim percakapan dan teori studi implikatur dari Paul Grice yang berbasis obyek analisis percakapan langsung. Hal ini dengan asumsi bahwa perang statement antara kedua tokoh nasional tersebut dapat dikategorikan sebagai percakapan retorik. Hasil analisis penulis ini membuka ruang bagi penerapan metode dan teori percakapan biasa (langsung) pada percakapan dalam konteks wacana publik sejauh wacana tersebut mengindikasikan adanya karakter-karakter khas yang biasa muncul pada percakapan biasa, seperti keteraturan, kesinambungan, ketimbal-balikan atau menunjukkan aksi-reaksi.

Kata Kunci (keywords): Studi Implikatur, Analisis Percakapan, Komunikasi Politik, Maksim Percakapan

DOI: 10.13140/2.1.1602.2565

See full-text paper here:  A Review of the Implicature Study -Communique Vol 9 No 1

Advertisements

FENOMENOLOGI DAN INTERAKSI SIMBOLIK

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

Istilah ’fenomenologi’ sering digunakan sebagai anggapan umum untuk menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui (Lexy J Moleong, 2007). Fenomenologi diartikan sebagai: 1) pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal; 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang (Husserl dalam Moleong, 2007).  Menurut Moleong, peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi-situasi tertentu. Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka. Inkuiri fenomenologis memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti. Continue reading


STUDI KASUS, METODE “HERMAPRODIT”?

Oleh: B. S. Wijaya

Studi kasus adalah metode riset yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi atau peristiwa secara sistematis (Kriyantono, 2006). Hasil akhir metode ini adalah deskripsi detail dari topik yang diteliti (deskriptif). Namun sesungguhnya, studi kasus memiliki beragam strategi dan tujuan metodologis, ada studi-studi kasus deskriptif, studi-studi kasus eksploratoris, dan studi-studi kasus eksplanatoris (Robert K Yin, 1996). Ketiganya dapat digunakan secara bersama (strategi pluralistik) atau secara sendiri-sendiri. Meskipun setiap strategi memiliki karakteristik tersendiri, banyak wilayahnya yang tetap saling tumpang tindih. Sehingga pengelompokan tersebut bukanlah pengelompokan yang tegas dan tajam serta tidak dibedakan dari aspek hirarkisnya. Continue reading


PARADIGMA KUALITATIF DAN KUANTITATIF

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

Kualitatif berasal dari kata ’kualitas’ atau ’quality’ yang berarti mutu, sifat, ciri-ciri (Kamus Standar Lengkap Inggris-Indonesia; Dhanny R. Cyssco, penerbit Buana Ilmu Populer). Berarti, jika kita berbicara tentang kualitatif, berarti kita berbicara mengenai hal-hal yang bersifat mutu, ciri-ciri dan sifat sesuatu atau seseorang. Jika kita berbicara tentang sebuah meja, maka yang menjadi bahan pembicaraan adalah ciri-ciri, sifat dan mutu meja tersebut. Apakah dia terbuat dari bahan kayu biasa, bermodel biasa dengan kaki empat dan jangkung atau dari bahan kayu jati kelas satu bermodel akar pohon berkaki menjuntai di-varnish secara sempurna sehingga tampak berkilau dan mewah. Di sini kita tidak menyinggung berapa banyak meja yang menjadi bahan pembicaraan, karena setiap meja memiliki ciri-ciri, sifat dan mutu tersendiri. Meskipun secara sepintas tampak mirip, sehingga kita bisa mengatakan bahwa semua meja itu sama saja, namun jika diperhatikan lebih seksama, akan ditemukan banyak sekali perbedaan-perbedaan dan deviasi karakter yang membuktikan bahwa setiap meja (meskipun dari bahan dan dibuat dengan cara yang sama) tak satu pun yang memiliki ciri-ciri, sifat dan mutu yang sama. Demikian pula jika kita berbicara mengenai manusia sebagai bahan pembicaraan atau kajian. Meskipun berasal dari latar belakang dan populasi yang sama, dipastikan bahwa tak satu pun yang memiliki sifat, ciri-ciri dan ’mutu’ yang sama. Continue reading



%d bloggers like this: