Blog ini menampilkan spektrum warna-warni komunikasi dari berbagai sudut pandang

Wijaya, B. S. (2019). “Branderpreneurship: Kewirausahaan Berbasis Pengembangan Merek”. Journal of Entrepreneurship, Management and Industry, Vol. 2 No. 4, pp. 205-212. DOI: http://dx.doi.org/10.36782/jemi.v2i4.1943

JEMI screenshotBranderpreneurship: Kewirausahaan Berbasis Pengembangan Merek

B. S. Wijaya

DOI: http://dx.doi.org/10.36782/jemi.v2i4.1943

Abstract—This article discusses a strategic concept for entrepreneurs so that their businesses can grow faster by synergizing the entrepreneurial spirit and the branding mindset. Indeed, many entrepreneurs still consider brand development or branding as a ‘luxurious strategy’ that is wasting money. However, by using the concepts and strategies that are smarter and focused, branding activities can be executed more effectively and efficiently to produce the optimum effect on business performance. Branderpreneurship concept refers to the stages as set out in the ‘circle of values development’: starting from Identifying values, Creating values, Delivering values, Communicating values, Maintaining values, Evaluating values to Updating values. Branderpreneurship concept is beneficial for novice entrepreneurs or SMEs that are developing their business so that the business brand more quickly recognized by the public, grows strategically, which would have an impact on increasing business profits. Branderpreneurship Framing Analysis (BFA)method can be used to asses the strategic performance of an entrepreneurial brand.

Keywords— branderpreneurship, values development, brand, hierarchy of branding, entrepreneurship, enterpreneur.

Abstrak—Artikel ini membahas sebuah konsep strategis bagi wirausahawan agar bisnis mereka dapat tumbuh lebih cepat, dengan menyinergikan semangat kewirausahaan dan pola pikir pemerekan atau branding. Masih banyak pengusaha menganggap pemerekan sebagai ‘strategi mewah’ yang membuang-buang uang. Padahal, dengan konsep dan strategi yang cerdas dan fokus, maka kegiatan pemerekan dapat dieksekusi lebih efektif dan efisien sehingga menghasilkan efek optimal bagi kinerja bisnis. Konsep Branderpreneurship mengacu pada tahapan yang ada dalam ‘the circle of values development‘: mulai dari Identifying valuesCreating valuesDelivering valuesCommunicating valuesMaintaining valuesEvaluating values hingga Updating values. Konsep Branderpreneurship sangat berguna bagi wirausaha atau UKM yang sedang mengembangkan bisnis mereka sehingga merek bisnis dapat tumbuh strategis, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan laba bisnis. Metode Branderpreneurship Framing Analysis (BFA) dapat digunakan untuk mengukur performa strategis sebuah merek wirausaha.

Kata kunci— branderpreneurship, pengembangan nilai, merek, hirarki pemerekan, kewirausahaan, wirausahawan.

Full-text access: Branderpreneurship

Cite this article as:

Wijaya, B. S. (2019). “Branderpreneurship: Kewirausahaan Berbasis Pengembangan Merek”. Journal of Entrepreneurship, Management and Industry, Vol. 2 No. 4, pp.205-212. DOI: http://dx.doi.org/10.36782/jemi.v2i4.1943

Wijaya, B. S. (2019). Dancing with the Impropriety of Media: How Indonesian Consumers Think and Behave towards the Unethical and Illogical Online News. Malaysian Journal of Communication, Vol. 35 No. 1, pp. 187-205. DOI: https://doi.org/10.17576/JKMJC-2019-3501-13

Dancing with the Impropriety of Media: How Indonesian Consumers Think and Behave towards the Unethical and Illogical Online News

by B. S. Wijaya

Abstract: The rise of online media makes us now everyday are bombarded by a number of online news content which are sometimes unethical and illogical. Without considering the adverse effects it causes, the media continue to treat news consumers with inappropriate content. News consumers as if hypnotized to ‘dance’ following the rhythm of that impropriety. How do news consumers, especially in Indonesia, think and behave towards the issue? This paper captures the voices of consumers and reviews their judgements regarding the ethical and logical discourse of the news provided by online media. Continue reading

Wijaya, B. S. (2018). Relasi Konsumen dan Merek dalam Dimensi Simbolik, Sosial dan Politik. Dalam Budiawan dan I. K. Ardhana (eds), Dari Desain Kebaya hingga Masyarakat Adat Raja Ampat: Budaya-Budaya di Indonesia dalam Tegangan dan Negosiasi Global-Lokal (pp. 236-264). Yogyakarta: Ombak

IMG_20190414_011313Relasi Konsumen dan Merek dalam Dimensi Simbolik, Sosial dan Politik

Oleh: B. S. Wijaya

Abstrak: Oleh Baudrillard (1996), ‘merek’ (‘brand‘) disebut memberi kontribusi bagi masa depan bahasa konsumsi. Kita pun dapat melihat dewasa ini merek menjadi wacana yang mengintrusi hampir segenap sisi kehidupan masyarakat pascamoderen, dan dibahasakan dalam konteks konsumsi secara luas. Hal ini berimplikasi pada konstruksi relasi konsumen dan merek yang bergerak dalam berbagai dimensi pemaknaan yang tidak tunggal. Makalah ini mengkaji secara konseptual bagaimana konstelasi makna relasi konsumen dan merek dalam dimensi simbolik, sosial dan politis. Continue reading

Wijaya, B.S. (2016). ‘Brand Activation dan Komunikasi Berasa’. Mix, Vol. 10/XIII/20 Oktober-16 November, p. 42

brand activationBrand Activation dan Komunikasi Berasa*

Oleh: B. S. Wijaya**

Mengapa sebuah brand perlu diaktivasi? Apanya yang diaktivasi? Apa sebenarnya makna dari aktivasi itu? Kita dapat menelusurinya melalui perubahan paradigma dari rezim komunikasi linier ke komunikasi sebagai budaya (communication as culture) yang menekankan pada kebermaknaan dan keberagaman resepsi pesan. Selama bertahun-tahun, kita ‘dijajah’ oleh asumsi teori jarum suntik yang menganggap pesan yang kita sampaikan melalui media massa akan diterima sama oleh khalayak konsumen. Artinya, media memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi massa. Maka iklan pun menjadi senjata andalan, karena dianggap paling efektif dalam menyuntikkan pesan-pesan produk ke syaraf preferensi konsumen.

Continue reading

Wijaya, B. S. & A. Faisal (2017). ‘Political Branding, Public Sphere/Space and the Corruption of Communication’. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, Vol. 84, pp. 280-284. DOI: 10.2991/iconeg-16.2017.63

Proceedings_Series_Cover_-_ASSEHRPolitical Branding, Public Sphere/Space and the Corruption of Communication

B. S. Wijaya & Andi Faisal

DOI: 10.2991/iconeg-16.2017.63

Abstract—In the 2014 Indonesia’s presidential election, the frenetic of imaging communications and persuasion fulfilled the public space and sphere, involving not only the campaign teams of each candidate but also broad public participation. Using a discursive approach with Habermasian’s public sphere as an analytical tool, this paper examines how political branding, the corruption of communications and the discourse of public sphere/space intersect producing what we call the communication fog. We identified some forms of communication corruption in political branding in the public Continue reading


%d bloggers like this: